7:01 AM
0
Belajar Bahasa Jurnalistik


Gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur, yakni kejujuran, sopan-santun, dan menarik. Yang dimaksud dengan kejujuran dalam bahasa berarti: kita mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Pemakaian kata-kata yang kabur dan tak terarah, serta penggunaan kalimat yang berbelit-belit, adalah jalan untuk mengundang ketidakjujuran.


Sopan-santun dalam berbahasa maksudnya adalah menghormati pembaca. Rasa hormat dalam gaya bahasa dimanifestasikan melalui kejelasan dan kesingkatan. Menyampaikan sesuatu secara jelas berarti tidak membuat pembaca memeras keringat untuk mencari tahu apa yang ditulis. Selain itu, pembaca tidak perlu membaca sesuatu secara panjang-lebar kalau hal itu bisa diungkapkan dalam beberapa rangkaian kata. Kejelasan di sini menyangkut (1) kejelasan dalam struktur gramatikal kata dan kalimat; (2) kejelasan dalam korespondensi dengan fakta yang diungkapkan melalui kata-kata atau kalimat; (3) kejelasan dalam pengurutan ide secara logis.

Yang dimaksud kesingkatan dapat dicapai melalui usaha untuk mempergunakan kata-kata secara efisien, meniadakan penggunaan dua kata atau lebih yang bersinonim secara longgar, meniadakan repetisi yang tidak perlu.
Kemudian yang dipakai pegangan dalam bahasa jurnalistik adalah:
*  menghindari singkatan dan akronim
*  menghindari angka yang terlalu rinci
*  memakai kalimat aktif


Perbaiki Kesalahan Teknis dan Ejaan

Kesalahanyang sering terjadi adalah kesalahan yang bersifat teknis, misalnya salah ketik. Demikian juga dengan kesalahan ejaan. Untuk memperbaiki kesalahan ini, selain membetulkan kata yang “salah ketik”, juga membetulkan ejaan dan tanda baca (pungtuasi). Untuk itu, kita harus mengacu kepada Pedoman Ejaan yang Disempurnakan (EYD) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dengan demikian, kita bisa menentukan mana kata yang baku dan tidak baku. Dan, secara konsisten kita menggunakan kata baku tersebut, juga konsisten menggunakan istilah, penyebutan gelar, tanggal, umur. Perhatikan contoh kata baku dan tidak baku di bawah ini.

Dianjurkan (Baku)          TidakDianjurkan (Tidak Baku)      

peduli                          perduli
andalan                        handalan
diimbau                       dihimbau
imbauan                       himbauan
anutan                         panutan
andal                           handal
persentase                    prosentase
nakhoda                      nahkoda
takhta                          tahta
sopir                            supir
lubang                         lobang
peduli                          perduli
berpikir                        berfikir
paham                          faham
dimungkiri                   dipungkiri
sekadar                        sekedar
konkret                        kongkret
kongres                        konggres
zaman                          jaman
iktikad                         itikad
telanjur                        terlanjur

Perhatikan Pilihan Kata (Diksi)

Dalam menyunting sebuah berita, kita harus memperhatikan apakah pilihan kata (diksi) sudah tepat. Berkaitan dengan hal ini, pengetahuan tentang makna kata sangat diperlukan. Perhatikan contoh kalimat berikut.

1. Pekerja migran rentan terhadap perlindungan hukumnya.

Kata rentan memiliki makna mudah terkena penyakit, peka (mudah merasa), misalnya ‘rentan terhadap bahaya kebakaran’, ‘rentan terhadap penyakit’. Dengan demikian, penggunaan kata rentan dalam kalimat tersebut tidak tepat. Perbaikan atas kalimat tersebut adalah sebagai berikut.

1b. Perlindungan hukum bagi pekerja migran sangat minim.


3. Repetisi yang Tidak Perlu
Dalam naskah berita, mungkin kita temukan pengulangan (repetisi) yang tidak perlu. Pengulangan tersebut bisa berupa kata dalam kalimat, atau kalimat dalam sebuah paragraf.

Perhatikan kalimat berikut.
2. Akankahkasus ini akan diselesaikan secara tuntas?
Ada dua kata akan dalam kalimat tersebut yang sifatnya pengulangan yang tidak perlu. Bila salah satu dihapus, kalimat tersebut tidak akan berubah makna.

Jadi, perbaikan kalimat (2) adalah sebagai berikut.
2a.  Akankahkasus ini diselesaikan secara tuntas?
2b. Apakah kasus ini akan diselesaikan secara tuntas?

Berikut contoh pengulangan kalimat dalam satu paragraf.
Dalam menangani kasus korupsi, pelanggaran hak cipta, ataupun pelanggaran etika profesi, peran pihak berwenang sangat diperlukan. Peran pihak yang berwenang memang diperlukan dalam menangani kasus-kasus tersebut.
Pada contoh kalimat (3) terdapat “pengulangan kalimat” yang tidak perlu. Untuk memperbaikinya, kalimat yang kedua bisa dihilangkan.

4. Hindari Pola Sirkumlokusi
Yang dimaksud dengan pola sirkumlokusi adalah definisi yang mengulang kata yang dibatasi atau mengulang gagasan yang sama, yaitu sinonimnya, dalam definiensnya. Contoh: Sebab-sebab peperangan adalah faktor-faktor yang menyebabkan konflik bersenjata. Kata sebab sama maknanya dengan faktor. Dengan demikian, kita tidak keluar dari persoalan yang seharusnya dijelaskan atau dibatasi pengertiannya.

5. Hindari Gejala Pleonasme
Yang dimaksud pleonasme adalah penggunaan kata-kata yang lebih dari yang diperlukan atau disebut juga bentuk yang mubazir. Bentuk yang mubazir itu, bila dihilangkan salah satu unsurnya, maknanya tetap utuh. Berikut sejumlah contoh pleonasme yang sebaiknya diperbaiki ketika kita melakukan penyuntingan.        
4. Lembaga ini didirikan hanyauntuk mengantisipasi kerusuhan Mei saja.

Perbaikan:
4a. Lembaga ini didirikan hanya untuk mengantisipasi kerusuhan Mei. 
4b. Lembaga ini didirikan untuk mengantisipasi kerusuhan Mei saja?

5. Banyak orang-orang menunggu bus di tepi jalan.

Perbaikan:
5a. Banyak orang menunggu bus di tepi jalan.

5b. Orang-orang menunggu bus di tepi jalan.

6. Pabrik-pabrik yang besar-besar telah dibangun di negara itu.

Perbaikan:
6a. Pabrik yang besar-besar telah dibangun di negara itu.

7. Tentara dan gerilyawan saling tembak-menembak di tepi hutan.

Perbaikan:7a. Tentara dan gerilyawan saling menembak di tepi hutan.

7b. Tentara dan gerilyawan tembak-menembak di tepi hutan.

8Bahasaadalah merupakan sarana komunikasi yang sangat penting.

Perbaikan:
8a
Bahasaadalah sarana komunikasi yang sangat penting.
8bBahasamerupakan sarana komunikasi yang sangat penting.
6. Perhatikan Logika Kalimat
       
Contoh kalimat yang tidak nalar:
Iring-iringan jenazahitu berjalan menuju tempat pemakaman.
Minuman ini bisa menghilangkan sariawan, panas dalam, hidung tersumbat dan bibir pecah-pecah.
Dokter berusaha keras menyembuhkan penyakit pasiennya walaupun tampaknya usaha itu akan sia-sia.
Tersangka pelaku korupsi itu berhasil ditangkap polisi.
Ia juga memastikan, polisi telah menangkap orang yang salah.

Perbaikan:

Ketidaknalaran pada kalimat (9) terletak pada frasa iring-iringan jenazah. Jenazah tidak bisa berjalan beriring-iringan. Tentu yang dimaksud adalah pengantar jenazah atau pelayat. Perbaikannya adalah sebagai berikut.

9a. Iring-iringan pengantar jenazahitu berjalan menuju tempat pemakaman.

Pada kalimat (10) yang dihilangkan ialah sariawan dan panas dalam. Adapun hidung tersumbat dan bibir pecah-pecah bukan untuk dihilangkan, melainkan disembuhkan. Perbaikan kalimat (10) adalah sebagai berikut.

10a. Minuman ini bisa menghilangkan sariawan, panas dalam, dan mengobati hidung tersumbat dan bibir pecah-pecah.

Pada kalimat (11) tentu yang dimaksud oleh penulisnya adalah menyembuhkan pasien, bukan menyembuhkan penyakit, sehingga kalimat tersebut menjadi:

(11a) Dokter berusaha keras menyembuhkan pasiennya walaupun tampaknya usaha itu akan sia-sia.

(11b) Dokter berusaha keras membasmi penyakit pasiennya walaupun tampaknya usaha itu akan sia-sia.
       
Ketidaklogisan yang terdapat pada kalimat (12) terletak pada pertalian makna tersangka pelaku korupsi dengan makna berhasil ditangkap polisi. Betulkah tersangka pelaku korupsi merasa berhasil ditangkap polisi? Tentu tidak. Tertangkapnya tersangka pelaku korupsi tersebut bukanlah suatu keberhasilan bagi tersangka pelaku korupsi, melainkan suatu keberhasilan bagi polisi yang memang berusaha menangkapnya. Sehubungan dengan itu, maka bentuk kalimat logisnya adalah:
(12a) Polisi berhasil menangkap tersangka pelaku korupsi.
(12b) Tersangka pelaku korupsi telah ditangkap penduduk.

Pada kalimat (13), terdapat keterangan orang yang salah yang bisa menimbulkan salah penafsiran. Kalimat tersebut bisa bermakna polisi menangkap orang yang berbuat salah, atau polisi melakukan kesalahan dalam menangkap orang. Jika yang dimaksud adalah polisi yang melakukan kesalahan dalam menangkap orang, kalimat (13) diperbaiki sebagai berikut.
(13a) Ia juga memastikan, polisi telah salah menangkap orang.
(13b) Ia juga memastikan, polisi salah tangkap.

7. Bahasa Artifisial
Tulisan jurnalistik tentu berbeda dengan puisi atau prosa liris, misalnya. Dalam penulisan jurnalistik, yang ditekankan adalah apa yang ditulis, bukan bagaimana seseorang menuliskan sesuatu.
Yang dimaksud bahasa artifisial adalah bahasa yang disusun secara seni. Bahasa yang artifisial tidak terkandung dalam kata yang digunakan, tetapi dalam pemakaiannya untuk menyatakan sesuatu maksud.

Contoh bahasa artifisial:

14. Saat itu, malam bergerak menuju pagi. Langit baru saja berhenti melepaskan hujannya.

Kalimat tersebut bisa diubah seperti berikut.

14b. Saat itu menjelang pagi, hujan baru saja reda.


Tambahan: Bahasa Indonesia yang digunakan di Majalah TEMPO

I. TANDA BACA

Tanda Kutipan Langsung

    ï‚· Saat itu dia berkata, "Usaha saya sudah maksimal".
    Seharusnya:
   - Saat itu dia berkata, "Usaha saya sudah maksimal."

    ï‚· Dia tampak bingung. “Saya ini di mana?", katanya.
Seharusnya:
   - Dia tampak bingung. “Saya ini di mana?" katanya.

b. Tanda tanya dan tanda seru
    ï‚· Berapa gaji seorang menteri ?
Seharusnya:
   - Berapa gaji seorang menteri?

   ï‚· Jangan mencoba melawan !
Seharusnya:
   - Jangan mencoba melawan!

c. Tanda kurung
   ï‚·  Arif pernah kuliah di luar negeri ( lulus tahun 1992 ) atas biaya sendiri.
Seharusnya:
   -  Arif pernah kuliah di luar negeri (lulus tahun 1992) atas biaya sendiri.

d. Tanda titik dua
   ï‚·  Jumlah kendaraannya pun menakjubkan : 5 BMW, 3 Mercedes, 1 Cherokee.
Seharusnya:
  -  Jumlah kendaraannya pun menakjubkan: 5 BMW, 3 Mercedes, 1 Cherokee.

II. Imbuhan, partikel, kata depan


A. Kata depan sering dikacaukan dengan awalan.

 Betul                                                  Salah
 --------                                                 -------
 1. Di sini                                             disini
 2. Di sana                                           disana
3. Di dalam                                         didalam
4. Di luar                                             diluar
5. Di mana                                           dimana
6. Ke mana                                          kemana
 7. Ke sana                                          kesana
 8. Ke sini                                            kesini

Catatan:
Kemari dianggap padu (bukan berasal dari “ke” dan “mari”) sehingga penulisannya adalah “ke sana-kemari”

B. Partikel “pun” yang membingungkan


Pada dasarnya partikel “pun” ditulis terpisah:

 1. Karena lucu, orang pun tertawa.
 2. Aku pun mencintaimu.
 3. Apalagi rumah, uang pun saya tak punya.

 Namun contoh di bawah ditulis padu.
Ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, meskipun, sungguhpun, walaupun 

Sedangkan ini tidak:
Apa pun, siapa pun

C. Imbuhan yang diambil dari bahasa asing.

Bentuk seperti di bawah ini ditulis padu:
 1. Di Sangiran ditemukan banyak kerangka manusia prasejarah.
 2. Orang yang dulu membenci PKI belum tentu saat ini dia antikomunis.
 3. Informasi supercepat dapat dilayani dengan internet.
 4. Tak ada yang bersedia bertanggung jawab terhadap kerusuhan pascajajak pendapat.
 5. Kehidupan tunawisma tak akan jauh dari kolong jembatan.

Bila kata yang digabungkan berawal huruf besar, penulisannya diberi tanda hubung:
 - Anggota gerilyawan di sana sangat anti-Amerika.

III. Penggunaan konjungsi


1. Tentang
Contoh:
a  Hari ini Kapolri menjelaskan tentang pembunuhan di wilayahnya.
Seharusnya:
 - Hari ini Kapolri menjelaskan peristiwa pembunuhan di wilayahnya.
Atau:
  - Hari ini Kapolri memberikan penjelasan tentang pembunuhan di wilayahnya.

b.  Menyinggung tentang rencana tahunan, Menteri Keuangan mengatakan bahwa terget pajak tahun ini naik 17 persen.
Seharusnya:
-  Menyinggung perihal rencana tahunan, Menteri Keuangan mengatakan bahwa terget pajak tahun ini naik 17 persen.
- Menyinggung persoalan tentang rencana tahunan, Menteri Keuangan mengatakan bahwa terget pajak tahun ini naik 17 persen.

c. Politisi senang sekali membicarakan tentang masa depan.
Seharusnya
- Politisi senang sekaliberbicara tentang masa depan.
Atau:
 - Politisi senang sekalimembicarakan persoalan masa depan.

2. Sebagai
ï‚·  Tahun lalu dia adalah bankir yang dikategorikan sebagai tercela.
Seharusnya:
-  Tahun lalu dia adalah bankir yang dikategorikan tercela.
Atau:
-  Tahun lalu dia dikategorikan sebagai bankir tercela.

 IV. Pemakaian kata yang sering salah atau berlebihan

 1. Bunga deposito tahun lalu antara 20 persen sampai 30 persen.
 2. Permusuhannya seperti antara kucing dengan anjing.
 3. Pertandingan antara Tyson melawan Holyfield.
(Antara harus dipasangkan dengan dan.)

 4. Hasilnya sekitar 20 juta dolar lebih per hari.
 5. Pohon bawang di sawah itu sekitar 30-40 persen dimakan ulat.
 6. Untuk mengangkat meja ini, sedikitnya perlu 5 orang lebih.
 7. Stadion Mandala memuat sekitar 500-an orang.
 8. Responden berusia rata-rata 50-70 tahun.
 9. Bukannya menolong, dia hanya melihatsaja.
 10. Kalaucuma diamsaja, masalahnya tak akan beres.
 11. Menteri Koperasi datang sekadar mengamatisaja.
 12. Jangan sampai kejadian itu terulang lagi.
 13. Dia memberi permen agar supaya adik berhenti menangis.
 14 Karena sakitnya parah, dia terpaksa harus dioperasi.
 15. Agar operasi sukses, dokter harus saling bekerja sama.
 16. Adik-kakak tak boleh saling pukul-memukul.
 17. Berlatih yang rajin adalah bekal untuk menduduki juara.
 18. Ali menderita parkinson sejak lama.
 19. Kenalilah penyebab sakit perut seperti makanan pedas, asam, jajan di sembarang tempat, dan lain-lain.
 20. Dia menjanjikan banyak hal, antara lain kekayaan, ketenaran, kebahagiaan, dan sebagainya.
21. Makin lama persahabatannya makin mengental.
 22. Jangan mengatakan kalau saya ada di sini.


V. PEMBENTUKAN KALIMAT
a. Pemakaian Koma

a1. Presiden Indonesia pertama, Sukarno meninggal tahun 1970.
Seharusnya:
- Presiden Indonesia pertama, Sukarno, meninggal tahun 1970.

a2. Sisi buruk televisi, menurut banyak ahli antara lain banyaknya adegan kekerasan dalam film.
Seharusnya:
- Sisi buruk televisi, menurut banyak ahli, antara lain banyaknya adegan kekerasan dalam film.

b. Kata tanya dalam kalimat
 b1. Dia bertanya siapa yang mengambil uang di lacinya?
Seharusnya:
 - Dia bertanya siapa yang mengambil uang di lacinya.

 b2. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa mereka menembak?
Seharusnya:
 - Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa mereka menembak.

 b3. Pertanyaannya, siapa presiden Indonesia kelima?
Seharusnya:
 - Pertanyaannya, siapa presiden Indonesia kelima.

 b4. Petani itu harus mencari rumah di mana burung walet bersarang.
Seharusnya:
- Petani itu harus mencari rumah tempat burung walet bersarang.


d. Hubungan subyek-predikat dalam kalimat majemuk

d1. Setelah tertangkap, polisi langsung memborgol penjahat kambuhan itu.
Seharusnya:
- Setelah tertangkap, penjahat kambuhan itu langsung diborgol polisi.
- Setelah menangkap penjahat, polisi langsung memborgolnya.

d2. Tak hanya pencuri, hakim juga harus berani mengadili koruptor.
Seharusnya:
- Selain mengadili pencuri, hakim juga harus berani mengadili koruptor.
- Tak hanya pencuri, koruptor juga harus diadili.

e. Kalimat tanpa subyek

e1. Dengan dibangunnya jembatan ini, membuat masyarakat mudah memasarkan hasil pertaniannya.
Seharusnya:
- Dengan dibangunnya jembatan ini, masyarakat jadi mudah memasarkan hasil pertaniannya.
Atau:
- Jembatan ini dibangun agar masyarakat mudah memasarkan hasil pertaniannya.

f. Kata penghubung berlebihan

 f1.  Meskipun di jalan yang ramai, tapi dia tetap ngebut.
 f2.  Bila undang-undang tersebut jadi diberlakukan, maka akan ada demo besar-besaran.
 f3.  Agar alkohol tidak cepat habis, maka botol harus tertutup rapat.

g. Penggunaan kata sambung yang salah
 g1.  Jika dulu Pak Harto turun karena dipaksa, maka Pak Habibie berhenti secara sukarela.
Sebenarnya:
- Dulu Pak Harto turun karena dipaksa, sedangkan Pak Habibie berhenti secara sukarela.
Atau:
-  Tak seperti Pak Harto, yang turun karena dipaksa, Pak Habibie berhenti secara sukarela.

h. Pemenggalan bagian kalimat menjadi kalimat baru

h1.  Hakim harus berbuat adil terhadap semua tertuduh. Antara lain dalam hal bagaimana cara mengorek keterangan.
Seharusnya:
- Hakim harus berbuat adil terhadap semua tertuduh, antara lain dalam hal bagaimana cara mengorek keterangan.

h2.  Berbagai jenis asuransi pun diperkenalkan. Yakni, asuransi yang mencakup kecelakaan diri dan kebakaran.
Seharusnya:
-  Berbagai jenis asuransi pun diperkenalkan, yakni asuransi yang mencakup kecelakaan diri dan kebakaran.

h3.  Indonesia mempunyai kelebihan yang tak dipunyai negara lain. Yaitu luasnya laut dan daratan.
Seharusnya:
- Indonesia mempunyai kelebihan yang tak dipunyai negara lain, yaitu luasnya laut dan daratan.

i. Penggunaan kata kerja dalam kalimat pasif

1a. Akhirnya Tyson berhasil mengalahkan Lenox Lewis. (benar)
1b. Akhirnya Lenox Lewis berhasil dikalahkan Tyson. (salah)
1c. Akhirnya Lenox Lewis dapat dikalahkan oleh Tyson. (benar)

2a. Nurdin berusaha menyuap hakim. (benar)
2b. Hakim berusaha disuap Nurdin. (salah)
2c. Hakim hendak disuap Nurdin. (benar)

3a. Saya ingin membeli baju itu. (benar)
3b. Baju itu ingin dibeli oleh saya. (salah)
3c. Baju itu hendak dibeli oleh saya. (benar)
                 *****
Putu Setia – Majalah TEMPO (1998)

PERATURAN

BERITA TERBARU

NEWS

Silahkan hubungi kami!

BERITA POLRI